Rubrik India Harian Orbit Medan

Memuat...

Minggu, 31 Oktober 2010

Kebersamaan di Ritual Aadhi Maha Puja


Begitu tiba dan memijakkan kaki disekitar kuil, sudah terlihat warga keturunan India Tamil yang pada umumnya tinggal di Kota Medan telah berkumpul di kuil Shri Singgamma Kali Koil di Kawasan Jalan Karya Medan. Kedatangan mereka untuk mengikuti ritual tahunan bernama Aadhi Maha Puja yang merupakan acara tahunan bagi umat Hindu.
 
 Karena ritual tersebut merupakan ritual tahunan yang sacral maka tak heran jika masyarakat India Tamil yang hadir mencapai ribuan orang. Semunya berbaur dalam kebersamaan yang mungkin jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tawa dan canda menjadi pelengkap acara tersebut,ditambah lagi dengan para wanitanya menjadi sangat cantik dengan balutan pakaian khasnya sambil menikmati hidangan yang telah disediakan pihak panitia.  Dan bagi masyarakat India Tamil sudah tentu mengenal acara ritual yang dikenal dengan ritual Aadhi Maha Puja atau sering juga disebut Aadhi Tiruvila. Ritual yang tahunan yang digelar hampir diseluruh kuil yang ada di Kota Medan. Makna dari ritual itu sendiri sebagai ungkapan syukur terhadap Dewa-dewi, yang pada intinya bertujuan untuk menolak bala.

Ritual Aadhi Maha Puja ini sendiri dikhususkan bagi Dewi Durga. Dewi yang dipercaya umat Hindu pada zaman dahulu sebagai Dewi yang dapat membebaskan umat dari penyakit yang menyerang. Maka dari itu saat tiba bulan ini, ritual ini digelar untuk membuat hati Dewi Durga menjadi tenang. Menurut keterangan Pinandita Murti sebagai pelaksana upacara untuk ritual tersebut, digelar dalam serangkaian acara yang berlangsung dalam kurun waktu tiga hari, dimulia sejak Jumat 13-15 Agustus. Dalam ritual tersebut bertambah semarak dengan datangnya tamu penabuh musik tradisional India yang khusus datang dari Malaysia.

Kesemarakan ritual tersebut dimulai sejak Jumat pagi ditandai dengan upacara penaikan bendera berlambang singa diwujudkan sebagai Dewi Durga. Penaikan bendera itu sendiri merupakan sebuah pertanda yang berarti akan ada acara yang digelar dikuil tersebut dalam beberapa hari kedepan. Dan dilanjutkan dengan pembagian bubur yang terbuat dari tepung beras dan juga tepung gandum. Pinandita Murti memaparkan, pemberian bubur itu sendiri ditunjukkan bagi Dewi Durga. Makna bubur itu sendiri  bertujuannya untuk membuat Dewi Durga menjadi tenang serta amarahnya terkendali, dan semua itu akan kembali pada umat. “ Dewi Durga merupakan Dewi yang memegang kendali sehingga untuk bulan ini ritual digelar untuk menghormatinya,”ujar Pinandita.

Setelah seluruh ritual tersebut usai, dilanjutkan malam hari dengan pembuatan sakti kargem, atau yang lebih dikenal dengan pembuatan mahkota yang terbuat dari daun mint dan bunga aster. Untuk penyusunan bunga tersebut biasanya menggunakan media kendi yang terbuat dari stainless. Untuk melengkapi hiasan kendi tersebut biasanya digunakan lilitan benang putih sebanyak 1008 atau 108 lilitan, dan untuk bagian dalam kendi berisi susu, kunyit, wewedi, kum-kum, dan bubuk kenari. “ Semua itu melambangkan sebagai kehidupan kita,” papar Pinandita.

Kemeriaahan upacara ritual pada hari kedua ini pun tak kalah ramainya. Pada hari kedua ini setelah seluruh umat melakukan puja dikuil, kemudian dilanjutkan dengan mengarak patung Dewi Durga keliling hingga kejauhan 2 Km yang diikuti lebih dari 1500 orang umat. Dan pada hari ketiga upacara tersebut adalah ritual yang paling menarik sebab pada perayaan tersebut ada beberapa umat yangm melakukan niatan dengan melakukan aksi tusuk pipi. Ritual tersebut bermakna sebagai pembayaran niat seseorang yang telah terpenuhi.

Ritual dimulai dari arakan Dewi Durga menuju sungai Deli yang diikuti sekira 40 orang wanita yang dominant berpakaian berwarna kuning, berjalan tanpa menggunakan alas kaki mengikuti iring-iringan pendeta dan juga umat lainnya. Dibarengi dengan gendang grup musik tradisional Sri Mathuraj Veeran (SMV) yang datang langsung dari Malaysia menambah semaraknya iring-iringan dan mencuri perhatian setiap orang yang melihatnya. Setibanya disungai seluruh pendeta sibuk dengan tugasnya masing-masing. Ada yang mempersiapkan puja untuk wanita-wanita yang memiliki niatan, ada yang pula yang mempersiapkan untuk ritual tusuk lidah, pipi dan juga badan.

“ Setiap orang yang akan ditusuk sudah berpuasa dan juga harus dengan hati yang bersih, dan biasanya hal itu dibarengi dengan adanya niatan atau nazar yang harus dibayarkan karena ada keinginannya yang telah terwujud,” beber Pinandita.

Pinandita memaparkan, ritual tusuk pipi tersebut dikenal dengan nama Mail Kawedi( Slage). Jumlah besi yang ditusuk sendiri ada sekira 108 batang yang mengitari seluruh tubuh. Dan saat ditusuk orang tersebut diharuskan menjungjung sebuah benda yang disebut Alu dan terbuat dari bulu burung merak. “ Tak hanya ditusuk bagian tubuhnya, orang yang tersebut juga ditusuk pada bagian lidahnya. Karena pada bagian lidah merupakan bagian yang terpenting karena diketahui pada bagian ini merupakan anggota tubuh  sering melakukan kesalahan yakni dari ucapan,” jelasnya.

Acara tahunan yang terbilang sangat jarang ini menjadi pusat perhatian warga sekitar yang berlomba-lomba ingin menyaksikan atraksi yang ditampilkan. Warga dan umat Hindu turut tumpah ruah memenuhi tepian Sungai Deli. Bahkan hingga acara ritual dilanjutkan dengan arak-arakan kembali menuju kuil oleh seluruh peserta ritual termasuk juga para umat yang lainnya.

Dan pada penutupan ritual Aadhi Maha Puja yang digelar diadakan pula ritual penyembelihan kambing. Kambing-kambing tersebut diperoleh dari sumbangan masing-masing umat yang ingin menyisihkan sebagian rezekinya bagi orang lain. Pada acara kali ini diperoleh  27 ekor kambing yang diolah menjadi masakan dan kemudian dinikmati semua orang yang hadir. Begitu pula bagi masyarakat sekitar juga dapat memperolehnya. Semua rangkaian Aadhi Maha Puja yang telah digelar selama satu bulan lamanya diharapkan sebagai jalan untuk kesejahteraan umat manusia.Om-15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar